
Apa yang terjadi kalau hamparan sawah di sulap menjadi bandar udara internasional? Inilah yang coba diungkap dalam documenter The Take-Off yang mewakili Indonesia dalam program First Time Film Makers Discovery Channel, menggambarkan perubahan besar yang dialami oleh penduduk asli sekitar Bandara Internasional Sukarno-Hatta. Bagaimana mereka yang dulunya petani dan tinggal di wilayah yang cukup terisolasi, kini harus hidup berdampingan dengan bandara terbesar di Indonesia dan segala kemajuan serta modernitas yang mengepung hidup mereka. Bagaimana harapan untuk hidup lebih maju pupus karena keterbatasan pendidikan yang membuat mereka kalah berkompetisi dengan para pendatang yang melamar kerja di bandara internasional. Film ini menampilkan sosok Muhamaddina murid kelas 6 SD dan keluarganya, yang harus bersaing dengan pesatnya kemajuan teknologi dan modernisasi. Bagaimana teknologi dan modernisasi telah mengubah hidup mereka. Disatu sisi, kemajuan justru mendatangkan kesulitan penghidupan bagi ayah Muhamaddina yang dahulunya buruh tani serabutan. Namun di sisi lain, teknologi dan modernisasi tetap menyisakan pengaruh positifnya. Hal-hal baru telah merubah mimpi-mimpi anak-anak di wilayah pinggiran bandara. Mereka tidak lagi bercita-citra sebatas menjadi petani seperti ayahnya. Kini, berbagai terpaan modernisasi dan teknologi baru, telah melahirkan cita-cita yang lebih tinggi lagi, sebuah kesadaran akan pentingnya peran pendidikan bagi generasi penerus mereka. Film The Take-Off ini merupakan salah satu dari 6 seri documenter First Time Film Makers Discovery Channel yang bertemakan "pengaruh teknologi terhadap kehidupan manusia di awal abad 21", yang masing-masing berdurasi 24 menit dan mewakili persoalan di Singapura, Taiwan, Malaysia, Muangthai dan Filipina. Seri documenter ini diputar secara Global pada tanggal 27 Desember 2001.
Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia | Jl. Sutan Syahrir 1C / Blok 3-4 | Jakarta Pusat 10350, Indonesia | phone: 62-21-31925113 / 115 | fax: 62-21-31925360