-
Nangiang Barong
- Tahun
- : 2006
- Durasi
- : 15 min.
- Sutradara
- : Ananta Wijaya, Dwitra Juli Ariana
Sinopsis
Kisah tentang masyarakat desa Kiadan dalam menanggulangi beragam bencana musibah yang menimpa mereka. Secara sekala (logika) sehari-hari masalah tersebut tak terpecahkan, maka mereka melakukan upaya niskala (spiritual-budaya) yakni nunas bawos ngatur desa (bertanya ke orang pintar ke empat penjuru mata angin). Hasilnya, mereka harus nangiang barong (membangkitkan kembali tapakan barong). Berhasilkah mereka?
-
Aku Bukan Maling
- Tahun
- : 2006
- Durasi
- : 14 min
- Sutradara
- : Susi Andrini, Made Suarbawa
Sinopsis
Na’lim seorang pemuda desa Pegayaman, Bali, seringkali dicurigai sebagai maling, perampok, atau pembunuh. Pandangan stereotip ini membawa kesulitan ekonomi dan sosial bagi warga Pegayaman pada umumnya. Mereka dikucilkan, kesulitan mendapatkan pekerjaan, teman atau pasangan hidup dari luar Pegayaman. "Daripada kawin sama orang Pegayaman, lebih baik kawin sama kambing", konon ada yang berujar demikian. Namun Na’lim tidak menyerah begitu saja pada keadaan. Ia bekerja untuk menggapai cita-cita, dan cinta. Baginya "hidup harus lebih baik dari sekarang".
-
Kolok (Deaf-mute)
- Tahun
- : 2006
- Durasi
- : 15 min.
- Sutradara
- : Bayu Sakti Wijaya, Dewa Made Merta Suardana, I.B. Putu Suwenda
Sinopsis
Seperti apa kehidupan masyarakat kolok (bisu-tuli) di desa Bengkala, Buleleng, Bali? Bagaimana mereka ber"bicara" antara satu dengan yang lain? Sudarma – salah seorang kolok, tidak merasa dirinya berbeda dengan orang-orang lain yang memiliki pendengaran normal. Ia mampu menghidupi keluarga walaupun dengan seadanya. Selain membantu orang tua dalam kehidupannya sehari-hari, Sudarma juga menyukai kegiatan tajen (sabung ayam). Dan uniknya, ia menjadi anggota kelompok tari janger Kolok di Bengkala.
-
Mengejar Fatamorgana (Chasing Mirage)
- Tahun
- : 2006
- Durasi
- : 13 min.
- Sutradara
- : Muji Ananta, Erwin Agus Handaka
Sinopsis
Asri, seperti kebanyakan gadis Bali lainnya yang "mesti" belajar menari Bali, sebenarnya mendambakan terjun ke dunia model yang gemerlap. Cita-cita ini didukung penuh oleh ayah Asri. Piala demi piala akhirnya diraih Asri dari kiprahnya sebagai model, melalui pengorbanan besar dalam hal waktu dan dana. Namun dengan tak disangka, keluwesan Asri menari tradisional Balilah yang membawanya mengunjungi negara lain, dan memuluskan jalannya masuk ke sebuah sekolah favorit di Denpasar.