Membangun Gagasan dan Merumuskan Fokus Film
24 Agustus 2009 | oleh Chandra TanzilMichael Rabiger dalam bukunya Directing The Documentary, menyatakan bahwa pada dasarnya, membuat film dokumenter tidak ubahnya dengan menulis sebuah cerita. Menurutnya, tahap paling awal dari keseluruhan proses tersebut adalah membangun sebuah gagasan. Pada tahap ini, Rabiger membedakan dengan tegas antara upaya ‘menemukan cerita’ dengan ‘membangun cerita’. Apa bedanya? Ternyata bagi Rabiger bedanya sangat tegas, yang pertama adalah upaya mencari topik yang (dalam bahasa saya) dahsyat. Untuk itu diperlukan imajinasi dan insting yang kuat. Sedang yang kedua lebih mengarah pada upaya-upaya sistematis untuk melakukan analisa, pengkajian dan merancang bangun berbagai kemungkinan sebuah topik dapat di diwujudkan menjadi sebuah film yang enak ditonton.
Lalu dari mana saya bisa mendapatkan ide atau gagasan untuk membuat film documenter? Ini adalah pertanyaa klasik yang sering muncul di kalangan pemula, apalagi kalau orang ini adalah mahasiswa sekolah film yang mendapat tugas untuk membuat film dokumenter. Apa yang dilakukan kemudian adalah merenung, mengingat-ingat dengan keras, apa topik yang dahsyat untuk film saya yah? Topik apa yang bias membuat film saya mendapat nilai A+? Untuk pemula, saya justru menyarankan untuk berpikir terbalik. Bukan mencari-cari topik apa yang dahsyat untuk film saya, tetapi persoalan keseharian apa yang selama ini menjadi perhatian saya. Atau persoalan apa yang selama ini dekat dengan keseharian saya. OK, sekarang kita memasuki aturan pertama bagi pemula dalam membuat film dokumenter, “mulailah dengan hal-hal yang dekat dengan diri kita sendiri”. Hal-hal yang anda kuasai betul materinya, suatu persoalan di mana anda memiliki akses yang besar untuk melakukan penggalian dan penelusuran, untuk mengetahui duduk perkaranya.
Sumber Gagasan
Berikut adalah beberapa panduan yang bisa digunakan untuk menentukan gagasan film dokumenter anda.
Catatan harian
Catatan harian adalah hal yang dikenal banyak orang, namun tampaknya hanya sedikit saja yang memiliki kebiasaan secara rutin melakukannya, termasuk saya sendiri. Namun, secara tidak terstruktur, saya seringkali membuat tulisan-tulisan tentang suatu hal yang kebetulan saat itu menarik perhatian saya. Misalnya sewaktu berdiskusi dengan teman di warung kopi, saya merasa tersadarkan betapa menariknya suatu topik untuk dibagikan kepada orang lain. Biasa saya saya lalu mencari kertas dan menuliskan poin-poin tertentu yang bisa mengingatkan saya kembali akan topik tersebut suatu saat di kala saya memiliki waktu yang cukup luang untuk menggali topik tersebut lebih dalam. Atau sewaktu menonton sebuah film atau berita, pikiran saya terpancing untuk menadalami sebuah permasalahan. Saya sendiri termasuk orang yagn tidak rajin dan sistematis membuat catatan-catatan, namun berusaha melakukannya, setidaknya saya memiliki beberapa dokumen di komputer yang bisa saya bongkar kembali pada saat saya memiliki waktu atau teringat akan ide tersebut.
Terbukti, membaca catatan-catatan tersebut merupakan keasyikan tersendiri bagi saya di kala-kala senggang, dan tidak jarang menjadi acuan sewaktu ingin merumuskan gagasan untuk membuat film dokumenter.
Cerita seputar keluarga
Ini adalah salah satu sumber ide yang paling ampuh sebagai landasan gagasan untuk film anda. Bagaimana tidak? Anda sebagai anggota keluarga sendiri, tentunya tahu betul persoalan-persoalan yang terjadi di dalam keluarga anda. Karakternya dan latar belakang masing-masing anda kenal dekat. Juga yang tak kalah penting, anda memiliki akses yang begitu besar untuk melakukan penelusuran yang lebih dalam. Tentunya tidak sulit menggali cerita dari ayah, ibu atau saudara kandung anda. Seringkali orang menganggap remeh persoalan yang ada di dalam keluarga sendiri. Padahal, begitu banyak film cerita yang sukses dan digemari banyak orang, bersumber dari cerita keluarga. Karakter-karakter yang unik, kejadian-kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi penontonnya dan persoalan-persoalan yang mencerminkan persoalan yang sedang melanda sebuah bangsa.
Pengalaman Masa Kecil
Setiap orang pasti memiliki pengalaman masa kecil yang terus membekas hingga ia dewasa. Berbagai pengalaman tersebut, sangat kaya akan kemungkinan-kemungkinan tema yang bisa kita telusuri kembali serta melihat korelasinya terhadap kehidupan anda di masa kini. Bentuknya bisa bermacam kejadiannya, yang pasti, ia meninggalkan jejak dalam bentuk kepribadian dari orang yang bersangkutan.
Ilmu Sosial dan Sejarah Sosial
Ilmu sosial dan sejarah sosial bisa menjadi sumber yang amat menarik untuk film dokumenter. Ada begitu banyak kajian-kajian dari ilmu sosial yang sangat dekat dengan persoalan di sekitar kita, mulai dari persoalan kemiskinan, korupsi, persoalan lingkungan dan lainnya. Menariknya, ilmu sosial saat ini telah merasuk ke berbagai situs yang ada di sekeliling kita, apakah itu pabrik, pertanian, perkantoran, bahkan stasiun kereta api, sehingga menggarap kajian ilmu sosial tidak selalu berarti anda harus pergi ke tempat-tempat terpencil di mana suku-suku terasing berada.
Apa yang dijabarkan diatas adalah beberapa sumber gagasan untuk membuat film dokumenter. Tentunya masih banyak sumber lain seperti berita atau artikel dalam surat kabar ataupun majalah. Bahkan legenda serta mitologi juga bisa menjadi sumber gagasan dalam pembuatan film dokumenter.
Menguji gagasan
OK, kita sudah menemukan gagasan yang akan menjadi tema dari film kita. Langkah selanjutnya adalah mempertanyakan kepada diri sendiri, kenapa saya ingin membuat film mengenai hal ini? Banyak penulis buku tentang produksi film dokumenter, menempatkan pertanyaan ini pada tahap awal dari sebuah produksi. Mengapa? Karena dari pengalaman, banyak sekali pemula dalam pembuatan film dokumenter memulai film mereka dengan gagasan yang tidak mereka kuasai betul dan parahnya lagi, tidak memiliki keterkaitan yang kuat secara emosional terhadap persoalan tersebut. Berdasarkan pengalaman saya sendiri mengajar di sekolah film/broadcasting, banyak mahasiswa yang sewaktu mengerjakan tugas film documenter mereka, tidak selektif dalam memilih gagasan atau tema. Karena dikejar tenggat waktu untuk mengumpulkan tugas, mereka tidak secara hati-hati, merumuskan betul gagasan yang akan melandasi film mereka. Akibatnya adalah, lebih dari separuh gagasan yang diajukan dalam tugas tersebut, tidak pernah menjadi film dokumenter. Apabila bukan karena rasa malas dan bosan, mereka akan terbentur pada hal-hal yang tidak mereka kuasai untuk menuju pada tahap-tahap produksi berikutnya. Kenapa bisa bosan? Jawabannya sederhana, karena mereka tidak punya ketertarikan secara emosional terhadap gagasan yang mereka pilih sendiri. Mereka tidak punya pengalaman yang membuat mereka terlibat secara emosional terhadap gagasan tersebut. Mereka tidak memiliki kepentingan apa-apa terhadap gagasan tersebut. Itu sebabnya, selalu pertanyakan pada diri sendiri, kenapa saya harus membuat film mengenai tema-tema tertentu? Kalau jawabnya adalah semata karena tugas kuliah, sebaiknya segera tinggalkan gagasan tersebut.
Jadi pastikan gagasan film anda, adalah hal yang sungguh-sungguh didasari oleh ambisi pribadi atau persoalan pribadi yang mengganggu anda secara emosional. Karena bagi saya, menentukan gagasan itu tak ubahnya seperti memilih istri. Karena ia akan menjadi pondasi atau landasan sebuah kerja yang panjang, dan harus melalui proses yang bertahap-tahap. Anda harus yakin betul bahwa anda tidak pernah akan bosan dengan persoalan yang dihadirkan oleh gagasan tersebut. Berikut adalah serangkaian cara yang bisa digunakan dalam menguji seberapa besar gagasan awal untuk membuat film dokumenter itu tepat untuk pembuatnya.
· Apakah saya memiliki pengetahuan yang cukup besar tentang gagasan tersebut?
· Apakah saya punya keterkaitan emosional terhadap gagasan/persoalannya?
· Apakah saya memiliki opini terhadap gagasan yang saya pilih? Mampukah saya berpihak?
· Apakah saya memiliki dorongan yang kuat untuk mempelahirinya?
Yang juga perlu diingat dalam tahap ini adalah; tidak semua subjek bisa diangkat kedalam medium film dokumenter. Penjara adalah salah satu institusi yang tidak dengan mudah bisa dimasuki begitu saja oleh sebuah tim produksi film documenter. Ada berbagai institusi yang memerlukan izin yang sangat rumit untuk dijadikan topik film, kepolisian misalnya, atau komunitas religius yang kecilpun tentunya akan menolak bila pembuat film ingin menggali pertikaian politik dan membongkar berbagai kecurigaan yang ditujukan kepada mereka. Topik-topik seperti yang dijelaskan di atas akan lebih mudah didekati menggunakan media berita ketimbang dokumenter.Pertanyaan-pertanyaan di atas penting dijawab secara jujur untuk memastikan bahwa pembuat film cukup punya ambisi untuk mewujudkan film dokumenternya. Namun, itu saja belum cukup. Mengingat film dokumenter adalah media yang dipilih pembuatnya untuk berbagi pengetahuan kepada khalayak ramai, maka pembuat film juga harus mempertanyakan kepentingan dari penontonnya nanti. Karena untuk apa penonton harus membuang waktu mereka untuk menikmati sajian informasi yang sudah mereka ketahui sebelumnya. Berikut adalah serangkaian pertanyaan yang bisa memandu anda untuk merumuskan apakah gagasan anda tepat untuk diwujudkan dalam film dokumenter yang akan diminati penonton.
· Apa pentingnya makna dari persoalan/gagasan ini untuk saya?
· Apa yang orang banyak—seperti saya—ketahui tentang persoalan ini?
· Apa yang orang banyak ingin ketahui tentang persoalan ini?
· Apa yang tidak biasa dan menarik dari persoalan ini?
· Apakah keunikan gagasan ini bisa divisualisasikan?
· Sejauh dan sedalam apa saya bisa menggali fokus film ini?
· Di mana saya akan mempertontonkannya?
Nah, sekarang coba buat urutan gagasan-gagasan yang terlintas di kepala. Kemudian coba pertanyakan daftar di atas tadi kepada masing-masing gagasan yang telah anda susun. Setelah anda bisa memberikan jawaban-jawaban yang jujur terhadap pertanyaan di atas, saya yakin anda akan bisa menilai, gagasan mana yang mungkin bisa anda kembangkan menjadi sebuah film.Berpikir Dalam Skala Kecil dan Lokal
Dalam merumuskan gagasan untuk film dokumenter, anda didorong untuk berpikir dalam skala kecil yang bersifat lokal. Hal ini terutama disebabkan karena meneropong persoalan yang memiliki dampak yang bersifat personal dari suatu subjek, biasanya akan membawa anda menjumpai hal-hal baru yang menemukan hal-hal yang sangat menarik. Sebaliknya, melihat persoalan dari sudut pandang yang luas, tentunya hanya memperlihatkan hal-hal yang bersifat permukaan dan umum-umum saja, yang cenderung sudah diketahui oleh banyak orang. Itu sebabnya, dalam bab terdahulu, dijelaskan bagaimana film dokumenter bersifat sangat subjektif.
Usaha untuk menggali hal-hal tak terduga dan mengungkap yang tidak biasa, sangat penting bila anda ingin menghasilkan cara-cara pandang baru. Kegiatan ini tentunya mensyaratkan upaya mempersempit dan mempertegas apa yang hendak anda tampilkan dan apa yang seharusnya anda hindari. Dalam kata lain, anda harus fokus hal-hal kecil disekitar anda sendiri (lokal). Misalnya, untuk bicara tentang korupsi, kita tidak harus membayangkan hal-hal besar upaya KPK menjerat koruptor kakap, seperti upaya hukum dalam pemberantasan korupsi; atau untuk menyampaikan demokrasi kita tidak harus menelaah kekisruhan dalam pemilu DPR RI. Kita bisa meneropong pungutan sewaktu mengurus perpanjang KTP di kelurahan masing-masing yang dilakukan oleh petugas kelurahan. Dan dengan mengangkat pergesekan antara pendukung calon kades di desa sendiri, otomatis kita akan bicara persoalan demokrasi. Inilah yang disebut sebagai berpikir kecil dan lokal, namun secara bersamaan, bukalah pikiran anda seluas-luasnya untuk ampu menangkap pesan-pesan universal dari persoalan kecil dan lokal tersebut. Ini bukanlah hal yang mudah, memang. Seringkali kita melihat hanya sebatas yang terlihat oleh mata, padahal untuk menangkap pesan universal dari sebuah kegiatan kecil, diperlukan kemampuan untuk melihat apa yang ada dibalik sebuah fenomena. Seperti contoh pemilihan kepala desa atau mengurus pembuatan KTP, usahakan untuk tidak sebatas terjebak pada aktivfitas-aktivitas yang kasat mata saja, akan tetapi coba maknai kegiatan tersebut ke tingkat yang lebih abstrak, lebih luas dan lebih universal. Ingatlah selalu bahwa hal-hal besar, selalu merupakan akumulasi dari hal-hal kecil. Tidak akan pernah ada yang besar kalau tidak dimulai dari yang kecil.
|
|
||
|
|
|
|
Dalam proses produksi dokumenter, inilah yang disebut sebagai perumusan film statement atau fokus dari gagasan film anda. Panduan pertama pada tahap ini adalah tetap berusaha mengingat bahwa film merupakan usaha untuk menampilkan manusia dan situasi dari luar. Adalah tidak mungkin atau sulit untuk menampilkan manusia dari dalam diri mereka, karena kamera tidak bisa masuk ke dalam otak masing-masing. Kalaupun bisa, yang terlihat hanya darah dan sel-sel otak (ada teknik yang digunakan dalam film untuk memaparkan isi kepala subjek seperti voice over, POV, dll yang akan dibahas pada bab-bab berikutnya). Namun, hanya melihat orang bicara saja tentunya lebih membosankan ketimbang melihat orang beraksi. Makanya, anda harus konsentrasi pada tindakan-tindakan manusia yang bisa dilihat dan direkam oleh kamera. Contohnya, melihat ekspresi kekecewaan, tangisan, atau seseorang mengamuk, tentunya akan lebih menyentuh persaan penonton ketimbang melihat orang tersebut menceritakan kekecewaan, rasa sedih atau marah mereka ke depan kamera. Jadi teorinya adalah, perilaku, aktivitas dan interaksi akan selalu lebih efektif dan menghanyutkan untuk ditonton karena mereka memancing pikiran penonton, memunculkan perasaan dan keberpihakan penonton.
|
|
||
|
|
|
|
Jadi film statement merupakan pesan utama yang hendak anda sampaikan melalui film. Ia merupakan sebuah hipotesa kerja atau dugaan sementara yang anda bangun untuk merancang elemen-elemen penting yang saling berinteraksi dalam film anda. Berikut adalah serangkaian panduan praktis untuk membantu membangun hipotesa kerja atau film statement anda, coba teruskan kalimat-kalimat berikut:
· Dalam hidup ini saya percaya bahwa…
· Film saya akan menggambarkan hal ini dalam serangkaian aksi dengan cara mengeksplorasi (situasi)…
· Konflik utamanya adalah antara… dan…
· Tujuan utamanya adalah agar penonton merasa… dan memahami bahwa…
· Siapa subjek dalam film ini (individu, kelompok, benda, gejala alam, isu sosial, dll) …
· Tambahkan beberapa informasi yang menjadi latar belakang yang penting diketahui penonton ...
Setelah melengkapi kalimat di atas, anda sudah memiliki elemen-elemen penting yang sangat diperlukan sebagai pedoman untuk memasuki tahap produksi berikutnya. Namun sebelum dilanjutkan, coba luangkan waktu lagi untuk merumuskan kalimat-kalimat yang lepas di atas ke dalam satu paragraf pendek yang bisa merangkum semua informasi utama yang akan menjadi pedoman anda dalam membuat film ini. Usahakan paragraf itu tidak lebih dari 2 atau setidaknya tiga kalimat pendek saja. Semakin pendek paragraf tersebut memperlihatkan semakin fokusnya anda melihat persoalan yang akan anda angkat dalam film tersebut. Kalau hal tersebut sudah anda lakukan, maka anda sudah memiliki apa yang sering disebut film statement atau hipotesa kerja anda dalam melakukan penelusuran di tahap riset yang lebih mendalam, maupun di tahap pengumpulan gambar dan suara yang utamanya dilakukan pada tahap shooting nanti.
|
|
||
|
|
|
|
Sebelum saya tutup bab ini, saya ingin mengingatkan kembali betapa pentingnya bagi seorang pembuat film untuk selalu berpikir visual. Mungkin bagi mereka yang pemula di bidang film ini tidak mudah dipahami. Kenapa begitu? Begini, sebagian besar dari hidup kita sebenarnya dipandu oleh visual yaitu mata kita. Namun, karena teknologi media audio visual ditemukan baru-baru ini saja, sangat jauh ketinggalan dibanding media cetak, maka cara kita berpikir lebih diarahkan oleh logika tulis, bukan logika visual. Sehingga, cara kita mendeskripsikan sesuatu, cenderung berorientasi pada struktur media tulis. Media itu tulis sangat membuka kemungkinan interpertasi pembacanya, sementara media audio-visual tidak seluas itu. Akibatnya, tidak semua tema yang bisa disampaikan oleh media tulis/cetak, bisa disampaikan juga lewat media audio-visual. Itu sebabnya, dalam merumuskan gagasan dan fokus film anda, usahakan untuk berpikir dalam kerangka audio-visual, sehingga ada bisa yakin betul—sejak awal—bahwa gagasan anda itu memang bisa diwujudkan dalam bentuk film, khususnya film dokumenter.
© In-Docs 2009