in-docs

Selamat Tinggal Industri Televisi, Selamat Datang New Media

2 Maret 2011 | oleh Chandra Tanzil

Artikel ini ditulis sebagai oleh-oleh dari keikutsertaaan penulis pada DOK Leipzig--Festival Film Dokumenter dan Animasi Internasional ke-53--di Leipzig, Jerman Oktober 2010 yang lalu, atas kebaikan Goethe-Institut Jakarta.

Babak Awal Kisah Pisah Ranjang
Di tahun 2009 yang lalu, saat para pekerja film dokumenter berkumpul di Leipzig, Jerman, banyak pihak cukup hati-hati (untuk tidak mengatakan pesimis) terhadap gagasan simposium yang digelar oleh salah satu festival film dokumenter tertua di dunia itu. Pasalnya, DOK Leipzig, memasang tajuk pada seminar utamanya dengan serangkaian kalimat yang kalau diartikan dalam bahasa Indonesia kira-kira berbunyi “Selamat tinggal industri televisi…”

Apa maksudnya? Ini memang aneh terdengar di telingan para pekerja film dokumenter di negeri kita, terutama bagi mereka yang belum banyak mengikuti perkembangan film dokumenter internasional. (untuk informasi latar belakang sejarah perkembangan film dokumenter dan hubungan dengan industri televisi, akan saya tulis dalam artikel yang berbeda kelak). Namun, singkat kata, pernyataan DOK Leipzig ke-53 tersebut menyiratkan bagaimana para pekerja film dokumenter dari negara-negara di Eropa Barat, Inggris dan Amerika Utara, mulai mengambil jarak terhadap para commisioning editor dari industri televisi, atau dengan kata lain, sudah mulai tidak mesra lagi.

Simbiosis antara pembuat film dokumenter dengan industri televisi yang begitu mesra di era-era sebelumnya, kini memasuki tahap genting. Penyebab utamanya adalah jumlah uang yang digelontorkan industri televisi untuk produksi film dokumenter kian menyusut saja. Tentu ada penyebab-penyebab lainnya, seperti kebijakan pemerintah yang memotong alokasi dana terhadap sektor produksi film, termasuk film dokumenter, di negara-negara tertentu seperti yang terjadi di Kanada sejak tahun 2002 dan Amerika Serikat yang sudah terdengar sejak awal 2008. Kemudian, krisis ekonomi yang terjadi di tahun 2009 lalu, membuat banyak lembaga-lembaga filantropis berbasis industri dengan berat hati harus menarik dukungan setianya terhadap produksi film-film dokumenter. Hal ini membuat beberapa televisi publik di Eropa pun harus mengelola usaha mereka secara lebih komersial (berkiblat ke rating) seperti yang terjadi dengan ARTE (Jerman-Perancis).

Langkanya dana produksi inilah yang membuat para pemegang kekuasaan di banyak industri televisi memutuskan memproduksi sendiri tayangan-tayangan mereka. Akibatnya, uang yang dialirkan ke berbagai pitching forum bagi para pembuat film dokumenter lepasan (commissioning production baik untuk yang one-off maupun serial) jumlahnya semakin menyusut saja.

Tidak heran kemudian kalau film-film dokumenter panjang (theatrical/long-form) menghilang dari layar kaca dan digantikan oleh dokumenter berformat televisi serta program-program reality show yang diproduksi secara in-house oleh masing-masing televisi.

Menariknya, kemarahan para pekerja dokumenter ini bertepatan waktunya dengan berkembangnya teknologi yang dulu kita kenal sebagai new media atau multimedia berbasis teknologi digital yang bersilangan dengan teknologi jejaring internet. Mana yang menyebabkan apa? Saya tidak tahu persisnya, yang pasti para pekerja dokumenter (bersama para pekerja film fiksi juga pada umumnya) melihat cross-platform media ini bisa menjadi solusi atas kemandekan yang sedang terjadi.

Itulah sebabnya mengapa para pekerja film dokumenter dan Festival mulai berpikir mengenai media alternatif untuk membiayai produksi film dokumenter serta mencari cara-cara baru dalam menyampaikan sebuah pesan dalam film dokumenter (storytelling), serta metode distribusi yang pas dengan format baru ini. Itulah yang kemudian mulai ditiup-tiupkan oleh para pekerja film dokumenter lewat berbagai festival di tahun-tahun yang lalu, hingga di tahun 2010, DOK Leipzig dengan gagah berani menyatakan ”farewell to televison”.

Lalu, apa reaksi dunia dokumenter saat itu? Terlebih, hampir di setiap festival, salah satu partisipan terbanyaknya adalah para commissioning editor yang mewakili berbagai industri televisi dunia. Jawabannya ternyata malu-malu! Karena, sebagian merasa pesimis dan sebagian lagi sangat berhati-hati. Ingat, kemesraan antara kalangan industri film dokumenter dengan partner televisinya di dunia barat, sudah berlangsung lama. Ini ibarat sulitnya memutuskan untuk pisah ranjang bagi suami-istri yang sudah menikah selama hampir 50 tahun. Selain itu, ada semacam ketidakpastian mengenai apakah akan muncul mekanisme yang memang bisa tepat guna dalam mengaplikasikan teknologi cross-platform media ini.

Para Pionir Cross-Platform Media
Untungnya, di tengah kehati-hatian tersebut, selalu ada superhero yang maunya "terjang dulu, mikir belakangan". Artinya, selalu ada inovator, yaitu mereka yang selalu berada di garis depan, sigap mengolah setiap peluang dan berani mengambil resikonya. Orang-orang seperti Franny Armstrong (UK) yang dengan gagah berani merilis sistem distribusi independent berbasis internet untuk filmnya The Age of Stupid, misalnya. Atau Jamie King (UK), sutradara dan produser film Steal This Film yang nekat menggratiskan filmnya untuk diunduh lewat The Pirate Bay. Keduanya merupakan pionir yang menjadi contoh sukses film dokumenter di dunia media baru yang non-mainstream.

The Age of Stupid berhasil meraih jutan dolar dari sistem distribusi berjenjang yang sangat cocok untuk komunitas film seperti di kampus-kampus di Indonesia. Caranya adalah melalui situs Independent Distribution Collective, yang membuat setiap komunitas film di mana pun bisa membeli hak tayang dari film tersebut dengan harga yang sesuai dengan kemampuan dan jumlah penonton mereka. Misalnya, harga yang diberikan kepada institusi pendidikan berbeda dengan kelompok pecinta film di perusahaan komersial. Jumlah penonton dan venue atau tempat pemutaran juga menentukan screening fee film tersebut. Saat ini, menurut situsnya, The Age of Stupid sudah diputar sebanyak 1.421 kali di berbagai belahan dunia. Menariknya, setelah 1 tahun beredar lewat sistem tersebut di internet, The Age of Stupid malah diminati oleh distributor media mainstream (distribusi lewat DVD label) termasuk penyiaran melalui jaringan televisi komersial. Padahal, film tersebut dibuat dengan biaya yang dihimpun sendiri oleh Franny Armstrong melalui jalur yang tidak biasa yang sekarang disebut crowd funding.

Steal This Film memiliki kisah yang lain lagi. Jamie King, pembuatnya, mencoba menguak sisi negatif dari apa yang kita sebut sebagai Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) atau copyright. Untuk mengkritisi metode kepemilikan HAKI tersebut, Jamie mengangkat usaha beberapa pemuda yang mendirikan The Pirate Bay, sebuah situs tempat setiap orang bisa mengunduh berbagai film, musik, dll. secara gratis. Maka, Steal This Film pun didistribusikan secara gratis melalui situs The Pirate Bay. Menariknya, di akhir film, Jamie memasang teks bertuliskan, "Jika Anda ingin menyaksikan bagian kedua dari film ini, tolong menyumbang sebesar US$5." Ternyata, hal ini membuahkan hasil, sehingga ia memiliki cukup dana untuk memproduksi Steal This Film Part 2, yang juga didistribusikan dengan metode yang sama, namun dengan inovasi yang lebih canggih dan penuh gimmick.

Sukses dari kedua contoh di atas kemudian mengispirasi banyak produser dan distributor film dokumenter untuk lebih menekuni media internet sebagai saluran distribusi alternatif. Tidak berhenti sampai situ saja, perkembangan teknologi digital telah membuka kanal-kanal baru untuk bisa menikmati film dokumenter. Saat ini, cukup dengan telepon seluler buatan Cina saja, setiap orang bisa menonton film. Belum lagi kehadiran pemutar video portabel seperti iPod, pemutar MP4, serta berbagai gadget elektronik lainnya yang semakin mewabah karena harganya semakin terjangkau. Hal ini membuat jasa layanan content seperti film dokumenter menjadi lebih beragam, mulai dari Televisi Protokol Internet (IPTV) hingga Video on Demand (VOD). Kemajuan inilah yang kemudian melahirkan istilah cross-platform media, atau media lintas platform. Artinya, cukup dengan sambungan internet, Anda bisa mengunduh sebuah film dokumenter yang bisa disaksikan lewat telepon selular atau iPod, baik yang berbasis QuickTime, Windows Media ataupun 3GP dan lainnya. Kata kuncinya sederhana, seperti yang disampaikan melalui film Steal This Film, dengan internet, puluhan juta umat di dunia kini bisa berhubungan langsung peer-to-peer. Artinya untuk menonton sebuah film dokumenter, penonton tidak lagi membutuhkan perusahan distributor raksasa yang canggih, tidak perlu lagi berurusan dengan monopoli bioskop ataupun jaringan televisi. Asalkan Anda memiliki akses ke ’Mbah’ Google sang mesin pencari, Anda bisa mengunduh film yang Anda minati.

Nah, memang persoalannya tidak selesai sampai situ, khususnya untuk kita yang tinggal di Indonesia, khususnya lagi yang tidak memiliki akses internet di lingkungan berjaringan super cepat--broadband fiber optic. Tentunya, hampir semua dari kita pernah merasakan waktu yang berjalan begitu lambat sewaktu berurusan dengan situs YouTube, terutama untuk urusan video. Ini agaknya tetap menjadi kendala bagi kita hingga 5 tahun mendatang, apalagi bagi mereka yang tinggal di pelosok, seperti kota Palu dan Kupang.

Oke! Yang pasti, saat ini banyak situs yang menawarkan jasa cross-platform media bagi para pembuat film dokumenter di mana pun mereka berada. Sebagai contoh, Anda bisa mencoba situs Independent Distribution Collective, Voodoo, The Pirate Bay, dll., dan coba tanya sama ’Mbah’ Google untuk yang lainnya. Namun hati-hati, tidak semua menawarkan jasa mereka secara gratis atau dengan pembagian yang cukup fair, atau belum tentu mereka mau mendistribusikan film Anda karena ragu akan kualitasnya. Cukup banyak perusahaan distribusi film, termasuk distributor film dokumenter main stream, saat ini juga menawarkan jasa untuk masuk ke wilayah new media tersebut. Mereka tentunya akan memperkenalkan berbagai istilah canggih, sistem hukum yang demikian jelimet dan kontrak-kontrak yang tak kalah ruwetnya. Untuk apa? Agar ujung-ujungnya, mereka bisa bilang bahwa mereka layak mendapatkan kompensasi yang memadai atas jasa pengurusan yang 'repot' tersebut. Ada satu pernyataan Jamie King pada kesempatan diskusi di DOK Leipzig ke-53 yang lalu. Dia bilang, "Why don’t you just go there and do it yourself (DIY)."

Lebih menarik lagi, model cross-platform media ini tidak hanya berfungsi pada tingkat distribusi, namun sekaligus menjadi wahana guna menghimpun dana produksi. Inilah yang dilakukan orang-orang seperti Franny Armstrong dan Jamie King. Sewaktu memproduksi film masing-masing, keduanya tidak didukung oleh pendana besar dari jaringan televisi ataupun lembaga pemerintah, tidak juga oleh sponsor besar. Apa yang mereka lakukan adalah mencoba menggalang keterlibatan orang-orang/institusi yang tertarik dengan isu yang hendak mereka angkat lewat produksi film tersebut melalui internet. Langkahnya (menurut salah satu pembicara dari Jerman pada sesi diskusi yang sama) adalah dengan membangun komunitas (building up community) melalui media maya tersebut. Hal itu bisa Anda lakukan lewat mailing list, jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter (saya akan menuliskan perihal ini juga dengan lebih detail pada kesempatan yang lain).

Tetapi jangan lupakan sumber-sumber pendanaan konvensional lainnya, misalnya jejaring lembaga NGO yang kebetulan punya interest yang sama. Kalau Anda cukup beruntung punya keluarga yang berkecukupan dari segi ekonomi, misalnya om dan tante, mereka bisa juga jadi sumber pendanaan, seperti yang dilakukan Tan Pin Pin (sutradara dokumenter asal Singapura) sewaktu memproduksi Singapore GaGa.

Inovasi Struktur Bercerita di New Media
Untuk menutup artikel ini, penting rasanya untuk mengingatkan bahwa perubahan bentuk media seringkali memerlukan struktur bercerita yang berbeda pula. Misalnya, beberapa perbedaan dalam cara-cara pengambilan gambar film layar lebar dengan film untuk tayangan televisi, atau format skenario yang berbeda antara screenplay dengan skrip untuk video dan televisi. Durasi, misalnya, kondisi menonton di bioskop, tentunya berbeda dengan televisi, apalagi lewat layar komputer. Kalau dalam pertunjukan di bioskop kategori film panjang bisa mencapai 120 menit atau lebih, di televisi biasanya hanya sampai 60 menit saja, dan tentunya di mobile device akan jauh lebih pendek lagi. Bayangkan kalau Anda harus menonton film berdurasi 120 menit melalui layar telepon seluler Anda. Tentunya sangat tidak nyaman!

Salah satu perbedaan yang lebih mendasar adalah kesadaran akan keunggulan media baru ini, yaitu mampu berinteraksi secara dinamis dengan penggunanya (itu sebabnya mungkin kata pengguna akan lebih tepat dipakai dibanding penonton, karena penonton lebih bersifat pasif, seperti nonton bioskop atau nonton TV, sementara pengguna akan terasa lebih aktif karena ada fasilitas navigasi pada mobile device). Itu sebabnya beberapa orang menggunakan istilah Democratic Media atau Participate Media untuk media baru ini. Mengapa? Karena crowd sourcing, user generated media, ataupun open source media ini, lebih bersandar pada kegiatan interaktif dan akses bagi penggunanya untuk menyaksikan tayangan lewat berbagai macam sudut pandang. Kalau pada media mainstream, tayangan bersifat linear atau satu arah, namun jika melalui cross-platform ini, ia menjadi nonlinear, sehingga penggunanya memiliki beraneka pilihan dalam mengikutinya. Cara-cara nonlinear ini juga berlaku dalam bagaimana content kemudian diproduksi. Misalnya saja, Jamie King justru melakukan penjualan tiket terlebih dahulu jauh sebelum film Steal This Film part 2 diproduksi. Sesuastu yang cukup janggal di ranah mainstream.

Oleh karena itu, mengutip Marisska, seorang produser film dokumenter berbasis new media pada simposiun di DOK Leipzig ke-53, penting bagi teman-teman pekerja dokumenter yang hendak memanfaatkan media baru ini untuk betul-betul memahami bagaimana beragam model bekerja untuk film yang berbeda-beda, siapa audience film tersebut dan media apa yang efektif untuk mencapai mereka, serta saluran atau model distribusi apa yang hendak Anda gunakan.

Agaknya, model cross-platform media akan segera melanda dan tampil sebagai salah satu pilihan dalam mekanisme penghimpunan dana, produksi dan distribusi film dokumenter di masa mendatang. Dan, cepat atau lambat, ia akan diadopsi oleh teman-teman pekerja dokumenter di Indonesia. Akan sangat baik kalau sejak awal kita menyelisik betul karateristik dan cara-cara kerja dari media baru yang sudah dirintis oleh rekan-rekan dokumenter kita di Eropa Barat dan Amerika Utara itu, sehingga kita tidak sekadar menjadi pemakai atau pengikut semata, karena media ini memang menawarkan begitu banyak model, varian dan kemungkinan inovasi yang adaptif terhadap situasi dan kondisi yang berbeda-beda.

CARI

ARTIKEL TERBARU


AMBIL FORMULIR

 


in-docs

Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia | Jl. Sutan Syahrir 1C / Blok 3-4 | Jakarta Pusat 10350, Indonesia | phone: 62-21-31925113 / 115 | fax: 62-21-31925360


Copyright © 2009 In-Docs. All Right Reserved.